Gereja Pantekosta Serikat di Indonesia Jemaat Ungaran

Kesaksian

APSINTUS (Bagian I)

I.      APSINTUS, RACUN YANG MEMATIKAN

Ayat penuntun:

Wahyu 8:10-11 “Lalu malaikat yang ketiga meniup sangkakalanya dan jatuhlah dari langit sebuah bintang besar, menyala-nyala seperti obor, dan ia menimpa sepertiga dari sungai-sungai dan mata-mata air. Nama bintang itu ialah Apsintus. Dan sepertiga dari semua air menjadi apsintus, dan banyak orang mati karena air itu, sebab sudah menjadi pahit.”

Apakah apsintus itu ? Bagaimana kira-kira gambaran keberadaannya dalam kehidupan seseorang ? Untuk jelasnya mari kita simak ilustrasi di bawah ini :

Budi adalah seorang karyawan yang sukses. Penghasilannya besar dan memiliki jabatan penting dalam organisasi profesi, badan sosial maupun organisasi keagamaan tempatnya beribadah. Pendidikannya cukup tinggi, lulusan perguruan tinggi terkenal di tanah air serta memiliki berbagai sertifikat keahlian profesi dari lembaga pendidikan di dalam dan luar negeri.  Dikaruniai wajah tampan dan penampilan yang menarik membantunya dalam peningkatan karir yang jauh lebih pesat dibanding rekan sebayanya. Isterinya juga tak kalah pandai dan menarik. Mereka dikaruniai 3 anak yang sehat dan serba berkecukupan. Budi juga seorang yang aktif di gereja tempatnya beribadah dan berjemaat. Semua aspek dalam kehidupannya tampak normal, tampak baik, bahkan jauh di atas rata-rata taraf hidup warga negara republik ini. Kebutuhannya akan materi, status dan aktualisasi diri terpenuhi dengan melimpah. Semua orang tampaknya akan berpendapat sama apabila ditanya tentang Budi yang populer ini. Orang-orang yang hanya melihat Budi dalam kehidupan sosialnya yang mapan, secara normal dengan berpatokan pada nilai yang umum berlaku akan menilai kurang lebih sama. Budi seorang yang mujur dan sukses. Semua yang diinginkan seorang pria ada padanya. Namun akan samakah penilaian yang akan diberikan oleh isterinya ? atau anak-anaknya ? Dalam angan-angan beginilah kira-kira pendapat orang lain tentang Budi.

Tuan Hengky (Atasan di kantor) : Budi seorang karyawan yang rajin, ulet dan jujur. Walaupun agak ambisius tetapi pada dasarnya ia menguntungkan bagi perusahaan.

Pak Viktor (Rekan kerja) : Walaupun prestasi kerja kami tidak jauh berbeda, namun penampilannya yang lebih meyakinkan membantu sekali bagi promosi karir Pak Budi. Terus terang saya iri dengan apa yang telah dicapainya.

Bu Heni (Rekan kerja) : Semua yang ada pada Pak Budi sepertinya semua baik. Tetapi saya merasa ada sesuatu yang aneh atau disembunyikannya. Masakan semuanya sesempurna itu ? Pernah beberapa kali saya merasa rikuh karena Pak Budi memandangi tubuh saya dengan cara yang kurang ajar dan membuat saya agak marah.

Mas Dul (Office boy) : Wah, Pak Budi hebat. Siapa yang tidak ingin seperti Pak Budi ? Punya segalanya, karir melesat, uang banyak, pokoknya hebat.

Namun, kira-kira bagaimana penilaian Saudara jika ternyata jawaban Isteri dan anak-anaknya ketika ditanya tentang Suami/ ayah mereka seperti ini :

Isteri Budi : Saya merasa amat terkekang. Mas Budi terlalu pencemburu, hal kecil atau bahkan tidak ada sesuatu yang cukup berarti bisa membuatnya marah besar karena cemburu. Saya pikir ia dihantui oleh pikirannya sendiri. Pergaulan saya sangat dibatasi, hampir-hampir tidak ada privasi dalam kehidupan saya. Saya tidak diijinkan bekerja  atau mengikuti perkumpulan wanita. Uang belanja terbatas untuk makan, saya tidak bisa mengekspresikan diri. Semua pendidikan dan kemampuan yang saya pupuk untuk berkarir tidak berguna. Sering saya bertanya-tanya, sampai kapan saya sanggup bertahan dalam situasi seperti ini ? kadang-kadang Mas Budi amat manis, tetapi seringkali ia marah dengan tak terkendali pada saya atau anak-anak, walaupun kesalahan anak-anak adalah hal biasa untuk usia mereka. Perilakunya bisa berubah amat drastis, ada sesuatu yang menyebabkannya seperti itu namun Mas Budi tak perNahum secara terbuka mau membicarakan permasalahannya. Apa yang membuatnya seperti itu ?

Adi (Anak sulung, 12 tahun) : Ayah amat menyayangi kami, tetapi sering sekali marah dan memukuli saya dan adik-adik dengan kegeraman yang menakutkan walaupun saya tidak sengaja melakukan kesalahan. Disiplin dan aturan yang dituntutnya dari saya terlalu menyulitkan saya. Saya jadi takut untuk bicara pada ayah.

Ani (Anak kedua, 9 tahun) : Ayah jahat pada saya. Saya tak dapat lupa caranya merobek-robek rapor saya karena ada nilai jelek. Akibatnya saya dimarahi Guru juga karena mengembalikan rapor dalam keadaan rusak.

Agus (Anak bungsu, 6 tahun) : Ibuuuuuuuu……… ada ayah. Agus takuuuuuut……

Ketika penilaian atas Pak Budi dikonfirmasikan dengannya secara langsung, ternyata jawaban Pak Budi seperti ini :

“Terserah saja atasan atau rekan kerja saya berpendapat tentang diri saya. Saya akui ada kebenaran penilaian mereka, tetapi saya bekerja keras untuk karir saya. Tentang penilaian keluarga saya, saya sedih dan kecewa karena perbuatan saya dianggap buruk. Saya akui mungkin saya salah, tetapi maksud saya baik. Pengekangan saya pada isteri karena saya takut ia selingkuh di belakang saya. Entah kenapa, tetapi saya sering menerima isyarat godaan dari wanita. Saya memang pernah mengkhianati isteri, namun setelah itu saya men Yesaya al dan tidak pernah mau melakukannya lagi sejak itu. Sedangkan perlakuan saya pada anak-anak saya pikir hal yang biasa. Saya ingin mereka disiplin dan berprestasi tinggi. Setiap pelanggaran harus dihukum setimpal. Begitulah dulunya saya dididik, dan buktinya saya cukup berhasil bukan ? Tentang cara saya memandang Bu Heni, saya akui waktu itu saya salah. Saya menyesal. Itu terjadi karena Bu Heni memang sering berpakaian agak menggoda dan saya terpengaruh juga dengan film porno yang baru saya tonton malam sebelumnya”

Mari kita kaji dialog imajiner di atas. kalau kita lihat, memang Budi adalah seorang yang berhasil di dalam pekerjaannya, tetapi ada masalah besar dalam keluarganya! Apakah penyebabnya? Ternyata yang membuat Budi bertindak demikian adalah “apsintus”, yaitu kepahitan, atau racun (ipuh) yang tersimpan dan mengakar dalam dirinya, sehingga bisa disebut akar pahit, karena kepahitan itu menghasilkan buah-buah pahit dan beracun lainnya yang diberikannya pada keluarganya, yaitu :

–        Akibat akar pahit atau apsintus dari perselingkuhan yang pernah dilakukannya, berbuah ketakutan kalau-kalau isterinya mengkhianatinya juga. Walaupun perselingkuhan itu sudah lama berakhir, tetapi akar pahit akibat perbuatan itu masih menghantuinya. Cemburu memberinya suatu kekuatiran dan rasa takut yang berlebihan sehingga membuatnya bertindak atau dengan kata lain menghasilkan buah beracun berupa tindakan yang menimbulkan perasaan pahit bagi isterinya. Itulah buah dari apsintus yang disimpannya.

–         Apsintus lainnya ada pada Budi karena ditanamkan oleh cara mendidik dari orang tuanya yang secara keliru dan terlalu keras menerapkan aturan disiplin kaku sehingga merusak jiwanya. Nilai-nilai yang ditanamkan oleh orang tua diterimanya sebagai hal yang benar, wajar dan sah-sah saja jika kemudian diterapkannya pada anak-anaknya. Pada waktu kecil Budi menerima didikan orang tuanya sebagai kepahitan, suatu ipuh yang tertanam mendalam hingga alam bawah sadarnya. Apsintus itu menjadi laten dan kemudian berbuah pahit yang mau tak mau diterima oleh anak-anaknya.

–         Dalam kasus pandangan Budi yang kurang ajar pada Bu Heni (yang kemudian disesalinya) ternyata disebabkan juga oleh pakaian Bu Heni yang agak menggoda dan film porno yang ditonton Budi malam sebelumnya, film yang mengeksploitasi tubuh wanita. Dalam hal ini kedua hal tersebut memberikan apsintus yang menjadi motif dan menimbulkan dorongan melakukan “pandangan kurang ajar” pada Budi.

Kiranya dari ilustrasi dan uraian di atas kita mulai bisa menangkap makna apsintus atau racun atau kepahitan yang ditimbulkannya. Dari satu akar pahit, berbuah menjalar dan terus menular, menebarkan benih racun kemana-mana.

Mari kita baca kutipan pada Wahyu 8:10-11 “Lalu malaikat yang ketiga meniup sangkakalanya dan jatuhlah dari langit sebuah bintang besar, menyala-nyala seperti obor, dan ia menimpa sepertiga dari sungai-sungai dan mata-mata air. Nama bintang itu ialah Apsintus. Dan sepertiga dari semua air menjadi apsintus, dan banyak orang mati karena air itu, sebab sudah menjadi pahit.”

Bagian Alkitab pada Wahyu 8:10 adalah satu-satunya ayat yang menyebutkan tentang apsintus. Apsintus adalah sebutan lain bagi Antikristus, arti katanya adalah ipuh atau racun. Anti dalam artian bertolak belakang, berlawanan, selalu bertentangan dengan segala yang diajarkan Tuhan Yesus Kristus. Rasanya pahit dan disebut dalam nats tersebut sebagai racun yang mematikan. Mengapa mematikan ? bagaimana masuknya kedalam hidup manusia ? (dalam hal ini apsintus bukan hanya masuk ke dalam tubuh, atau hanya jiwa, atau roh ? melainkan ke dalam hidup manusia dalam segala aspeknya, itulah sebabnya apsintus bukan hanya mematikan bagi umat yang menyimpan atau mengidapnya, tetapi karena siapapun yang mengidapnya membuahkan apsintus lain lewat buah-buah dalam bentuk perkataan, perbuatan, pikiran dan semua gerak-geriknya.

Akar pahit berbuah kepahitan. Dalam kejadian yang menimpa Budi ini, bisa kita lihat bahwa kepahitan yang ada padanya ada tiga macam yaitu :

–        Akar pahit akibat perselingkuhan (disebut akar karena telah berlangsung lama)

–        Akar pahit karena cara didik orang tua

–        Racun pahit karena tontonan film porno

Akar pahit selingkuh berbuah kecemburuan dan kuatir berlebihan, akar pahit yang kedua berbuah tindakan salah pada anak-anaknya (jika tidak ditangani dengan benar buah pahit ini dapat berbuah pahit lagi bagi generasi berikutnya), sedangkan buah pahit yang ketiga muncul karena Budi mengisi “sampah” pada pikirannya sehingga berbuah tindakan “sampah” pula, tindakan yang tidak mulia, rendah seperti sampah.

Lewat buah-buah inilah terjadi penularan yang tak dapat dihindari. Jika kepahitan yang ada pada Budi mungkin adalah amarah, maka buahnya adalah ucapan atau perilaku yang kasar, pedas atau menyakitkan hati orang lain. Akibat kata-kata tersebut menimbulkan pula kepahitan lain pada orang tersebut, dapat berupa kemarahan lagi, berbuah lagi diterima orang lain lagi sebagai suatu kepahitan, begitu terus seterusnya jika buah pahit tersebut diterima oleh orang yang suka menyimpan kepahitan dalam bentuk rasa dendam. selama kepahitan tersebut disimpannya, maka buah pahit pun akan keluar terus. Kapan berhentinya ? Ini akan berhenti hanya jika kepahitan tersebut sudah terbuang habis dan kepahitan baru lainnya bisa ditangkis. Apsintus sudah terlalu banyak dan mendalam persebarannya di sekeliling kita. Butuh daya tahan ekstra kuat untuk menangkalnya, dan penangkal itu hanya ada di dalam Tuhan Yesus Kristus.

SALIB KRISTUS PEMUNAH APSINTUS, UBAHKAN RACUN BUSUK JADI BUNGA NAN HARUM
SALIB KRISTUS PEMUNAH APSINTUS,
UBAHKAN RACUN BUSUK JADI BUNGA NAN HARUM

Bagaimana jika kepahitan tersebut sudah begitu lama dan mendalam ? Kita harus menggalinya, kemampuan kita sendiri amat terbatas untuk itu. Kita harus minta bantuan Roh kudus. Berikut kita akan menggali bagaimana Tuhan  Yesus mengajarkan pada kita cara-cara untuk mengatasi apsintus. Juga belajar dari cara tokoh-tokoh Alkitab baik yang jatuh akibat apsintus, maupun teladan dari para pahlawan iman yang pernah mengalami serangan akar pahit namun dapat mengatasi apsintus dan bahkan merubahnya menjadi berkat yang luar biasa. Bersambung ke Bagian II. MENGENALI APSINTUS (Cara apsintus menyusup, jenis-jenis apsintus, dst.)

MF, 2013


Rahasia S-U-K-S-E-S = Percaya!

Apakah sukses itu? untuk sebagian orang mungkin sukses dapat diartikan sebagaimana motto “Muda foya-foya, tua kaya-raya, mati masuk surga”.  Apakah benar demikian? Bagaimana semestinya? Apakah sukses berarti semata-mata kekayaan yang melimpah? Atau hanya foya-foya di dunia? Apakah bahagia sejati bisa diperoleh hanya dengan limpahan harta?

Sukses yang sejati hanya bisa diperoleh jika Tuhan berkenan memberikannya. Sukses yang dari Tuhan itu adalah sukses dalam hidup sekarang dan dalam kekekalan nanti. Sukses bagi tubuh, jiwa dan roh.

Mungkinkah itu? Ya. Firman Tuhan yang dapat kita pedomani dan patut kita renungkan dalam upaya mencapai sukses (yang sebenarnya sudah tersedia untuk anak-anak Tuhan) dalam 7 langkah terdiri dari 6 tindakan (nomor 1 sampai 6) dan 1 sikap iman (nomor 7) sebagai berikut :

1.  Serahkan segala rencana dan mintalah pada Tuhan lewat doa.

Amsal 16:3 : Serahkanlah perbuatanmu kepada TUHAN, maka terlaksanalah segala rencanamu.

2.  Usahakan dengan tekun dan tabah.

II Tawarikh 15:7 : Tetapi kamu ini, kuatkanlah hatimu, jangan lemah semangatmu, karena ada upah bagi usahamu!”

3.  Korban syukur diserahkan pada Allah.

Ibrani 13:15-16 : Sebab itu marilah kita, oleh Dia, senantiasa mempersembahkan korban syukur kepada Allah, yaitu ucapan bibir yang memuliakan nama-Nya. Dan janganlah kamu lupa berbuat baik dan memberi bantuan, sebab korban-korban yang demikianlah yang berkenan kepada Allah.

Ulangan 15:10 : Engkau harus memberi kepadanya dengan limpahnya dan janganlah hatimu berdukacita, apabila engkau memberi kepadanya, sebab oleh karena hal itulah TUHAN, Allahmu, akan memberkati engkau dalam segala pekerjaanmu dan dalam segala usahamu.

4.  Sukacita dalam mengerjakan.

Roma 14:17 : Sebab Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus.

Pengkhotbah 5:18 : Setiap orang yang dikaruniai Allah kekayaan dan harta benda dan kuasa untuk menikmatinya, untuk menerima bahagiannya, dan untuk bersukacita dalam jerih payahnya — juga itu pun karunia Allah.

5.  Emas-perak bukan yang terutama.

Zefanya 1:18 : Mereka tidak dapat diselamatkan oleh perak atau emas mereka pada hari kegemasan TUHAN, dan seluruh bumi akan dimakan habis oleh api cemburu-Nya; sebab kebinasaan, malah kebinasaan dahsyat diadakan-Nya terhadap segenap penduduk bumi.

Amsal 16:16 : Memperoleh hikmat sungguh jauh melebihi memperoleh emas, dan mendapat pengertian jauh lebih berharga dari pada mendapat perak. (tentang hikmat dan pengertian lihat Ayub 28:28)

6.  Syukuri hasil yang diperoleh.

Mazmur 118:21 : Aku bersyukur kepada-Mu, sebab Engkau telah menjawab aku dan telah menjadi keselamatanku.

Efesus 5:20 : Ucaplah syukur senantiasa atas segala sesuatu dalam nama Tuhan kita Yesus Kristus kepada Allah dan Bapa kita

 

7.  = Percaya bahwa segala sesuatu yang telah dan akan diberikan, adalah yang terbaik dari Allah !

Markus 11:24 : Karena itu Aku berkata kepadamu: apa saja yang kamu minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu.

Matius 21:21 : Yesus menjawab mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika kamu percaya dan tidak bimbang, kamu bukan saja akan dapat berbuat apa yang Kuperbuat dengan pohon ara itu, tetapi juga jikalau kamu berkata kepada gunung ini: Beranjaklah dan tercampaklah ke dalam laut! hal itu akan terjadi.

I Yohanes 5:14 : Dan inilah keberanian percaya kita kepada-Nya, yaitu bahwa Ia mengabulkan doa kita, jikalau kita meminta sesuatu kepada-Nya menurut kehendak-Nya.

Markus 5:36 : Tetapi Yesus tidak menghiraukan perkataan mereka dan berkata kepada kepala rumah ibadat: “Jangan takut, percaya saja!”

Ungaran, 12 Juli 2005

Mos F


Tempat Doa Getsemani, Ungaran

Beruntungnya kami yang tinggal di Ungaran dan sekitarnya karena diberkati dengan sebuah tempat doa yang indah dan nyaman, Tempat Doa Getsemani, atau biasa juga disebut warga sekitar Ungaran dengan Bukit Doa Taman Getsemani.

Bagi yang pernah mengunjunginya, pastinya ada pengalaman rohani dengan taman yang sudah ada sejak tahun 1970-an ini. Beberapa rekan hamba Tuhan yang kini sudah berada di berbagai daerah sering mengisahkan pengalaman pribadinya yang mengesankan ketika di waktu lampau berdoa di Taman Getsemani. Ketika mereka tahu saya berasal dari Ungaran, kisah pengalaman rohani mereka pun mengalir. Menambah dalam kesan saya tentang keberadaan Taman Doa Getsemani. Bagi yang belum, kami akan tampilkan beberapa foto untuk Anda.

Gerbang masuk Tempat Doa Getsemani, Ungaran

Gerbang masuk Tempat Doa Getsemani, Ungaran

Saat akan memasuki tempat doa, para pengunjung wajib melapor ke Pos Penerima, tepat di sisi gerbang masuk. Kita diminta mengisi buku tamu dengan data diri dan tujuan. Sekilas saya lihat banyak juga pengunjung dari luar kota. Bukan hanya sekitar Semarang atau Jawa Tengah, tapi juga Jakarta dan bahkan dariluar pulau Jawa.

Sebelum mengunjungi tempat ini, saya pikir lebih baik berdoa di ruang khusus doa gereja kami saja, namun pada hari tertentu kalau bersamaan dengan jadual latihan musik atau ibadah pemusatan hati untuk berdoa agak terganggu juga. Akhirnya saya memutuskan untuk mengunjungi Taman Getsemani. Sebagai sebuah tempat khusus untuk berdoa, tentunya tempat ini dirancang dan dilengkapi fasilitas yang benar-benar nyaman untuk para pendoa.

Jalan Setapak ke Gua Doa

Jalan Setapak ke Gua Doa

 

Ketika berjalan menuju fasilitas Gua Doa Pribadi saya melintasi taman yang tertata rapi, asri dan segar. Ditambah iklim Ungaran yang dingin, ketenangan lingkungan tempat doa seluas lebih dari 3 (tiga) hektar ini kian menyejukkan hati.

Bagian Depan Gua Doa

Bagian Depan Gua Doa

 

Fasilitas doa di Taman Getsemani bukan hanya Gua Doa Pribadi, masih ada beberapa tempat lain untuk pujian dan penyembahan, perpustakaan, toko buku, penginapan, menara doa, dll. Namun sesuai tujuan kali ini, saya memilih gua doa pribadi. Di tempat berukuran sekitar 1m X 2,5m ini, kita bisa berdoa tanpa gangguan dan benar-benar memusatkan perhatian kepada Tuhan.

Bagian Dalam Gua Doa

Bagian Dalam Gua Doa

Di dalam Gua Doa Pribadi terdapat lampu baca, meja kecil dan alas duduk. Dengan dukungan suasana lingkungan yang baik, suasana hati untuk berdoa pun terasa nyaman.

Bukan hanya untuk pengalaman rohani pribadi, jika mengajak keluarga pun, saya yakin akan menjadi pengalaman berharga bagi anak-anak kita.

Bagi Saudara-saudara yang tertarik mengunjungi Taman Bukit Doa Getsemani, bisa mendapatkan informasi selengkapnya di (silakan klik):

http://www.bukitdoagetsemani.blogspot.com/

atau menghubungi:

Jl. Sindoro I no. 13 Ungaran 50517
Jawa Tengah – Indonesia
Ph. 62-24 6922003
Fax. 62-24 6922004
Email : tamangetsemani@yahoo.com

Terimakasih kami sampaikan kepada Pendiri dan Pengelola Taman Getsemani, Tuhan Yesus memberkati.

MosF/ Admin, Pebruari 2011

 

 


Tergantung …. di tangan siapa?

Paling baik, berada di tangan Tuhan Yesus

Paling baik: berada di tangan Tuhan Yesus

 

Bola basket di tangan kita hanya bernilai $ 19

Bola basket di tangan Michael Jordan bernilai $ 33 juta

Raket tenis di tanganku tak ada nilainya

Raket tenis di tangan Pete Sampras senilai kejuaraan Wimbledon

Sebuah tongkat di tanganku hanya dapat mengusir seekor anjing

Sebuah tongkat di tangan Musa dapat membelah laut

Sebuah ketapel di tangan anak-anak hanyalah sebuah mainan

Sebuah ketapel di tangan Daud menjadi senjata yang dahsyat

Sebuah paku di tanganku hanya menghasilkan rumah burung

Sebuah paku di tangan Yesus, memberikan keselamatan besar.

Apapun itu, sekecil  apapun nilainya bukan tergantung pada barang/benda apa itu, tapi tergantung dari .. ada di tangan siapa benda tersebut!

Sekarang …… ada di tangan siapakah hidup kita ?

Kiriman dari : ibu Santi


Tribute to Rev. Mr. & Mrs. White (Indonesian UPCI Missionaries 1938, Founder of UPC Indonesia/ GPSDI)

Tribute to Mr. & Mrs. White, Indonesian UPCI First Mission 1938

(Founder of UPC Indonesia/ GPSDI)

Bapak & Ibu Pdt. White

 

Crossing over seas and continents

coming to the archipelago to make every endeavor

based on faith & commitment

bringing seeds & fire of Holy Saviour

 

Building, spreading, suffering, fighting

strengthened by greatness of Holy Power

smiling, teaching, praising, worshipping

empathy through tears & neverending prayer

 

Conquering with fire of love & seeds of charity

Now we, just keep & maintain to harvest

Put all, give all for the one and only great Almighty

Thanks to Jesus for you & your heroes, you’re all the best!

 

Tribute to Mr. & Mrs. White

Tribute to Mr. & Mrs. White

Penghargaan untuk Bapak & Ibu Pdt. White (Misionaris UPCI Pertama di Indonesia, 1938, Pendiri GPSDI)

 

Lintasi pulau dan benua

berbekal iman dan hati

curahkan doa dan air mata

saksi tindakan dan saksi nyata

 

Datang ke nusantara

membawa benih sesawi

hidup tumbuh subur dan nyata

selamatkan raga jiwa dan rohani

 

Serahkan hidup untuk sebuah bangsa

relakan jiwa raga demi satu misi

kian tua kian menyala-nyala

api Kristus bagi selamatnya negeri

 

Sukarela dalam sukacita

damai sejahtera dari satu janji

landasannya hanya iman percaya

janji Yesus pasti ditepati

 

Mr. & Mrs. White, inilah kami

lewat juangmu api dan benih Kristus kami terima

ucapan syukur bagi Yesus & terimakasih dari dasar hati

bagi laskar Kristus, barisan penebar cinta

 

Mr. & Mrs. White, inilah kami

kiranya Tuhan menolong kita semua

berjuang menjaga benih dan nyala api misi

berdoa dan terus bekerja

 

Indonesian First UPC 1938 Missionaries, UPC Indonesia/ GPSDI Founder

Indonesian First UPC 1938 Missionaries, UPC Indonesia/ GPSDI Founder


ALIRAN KUASA MENJAMAH ANAKKU

Aliran Kuasa Menjamah Anakku

Sumber Kesaksian : Ibu Sri

CBNI – Ibu Sri adalah seorang pembantu rumah tangga yang mempunyai seorang anak perempuan. Anak semata wayangnya ini mengalami sakit bengkak di leher semenjak kelahirannya. Tentu saja hal ini sangat menyusahkan hatinya.

1. Waktu dilahirkan anak saya ini diperiksa oleh bidannya. Bidan melihat ada kelainan di bawah dagunya seperti lubang sebesar jarum. Semakin lama lubang ini semakin tumbuh dan mengeluarkan bau. Lama keadaan ini tidak lagi saya perhatikan, saya pikir sakit ini akan sembuh sendiri kalau anak saya besar nanti. Tapi setelah anak saya berumur dua tahun, di leher anak saya ada bengkak sebesar bola kasti.

2. Karena tidak mampu pergi ke dokter spesialis, anak ini saya bawa ke dokter puskesmas. Kata dokter anak saya ini harus dioperasi. Tapi saya jadi bingung karena saya ini dari keluarga ekonomi rendah. Saya hanya bisa pasrah dengan semua ini.

Hampir setiap hari ibu Sri berjalan kaki mencari kesembuhan bagi anak yang dikasihinya. Tetapi usahanya ini tidak berhasil. Walau demikian setiap hari ibu Sri selalu berdoa memohon kesembuhan bagi anaknya.

3. Satu malam saya menyetel TV. Waktu itu saya menonton pembawa acara Solusi memandu penonton untuk beriman. Penonton yang punya masalah dan problem apa saja diminta untuk mengangkat tangan. Waktu itu saya mengangkat tangan dan saya imani dalam doa. Saya juga meminta ampun jika selama ini saya merasa penderitaan ini akibat saya jauh dari Tuhan. Saya sudah lama meninggalkan Tuhan, jadi saya merasa ini hukuman bagi saya. Akhirnya saya berdoa minta ampun dulu untuk semua itu.

4. Tangan kiri saya saya pegangkan ke bagian bengkak anak saya sedangkan tangan kanan saya angkat ke televisi. Saya berdoa memohon pada Tuhan karena saya tidak punya uang untuk operasi. Sambil saya minta ampun saya imani terus doa saya. Saya imani doa saya di dalam nama Tuhan Yesus, akhirnya amin.

Beberapa hari kemudian saya melihat bengkak di leher anak saya mengempes terus. Padahal sebelumnya bengkak itu seperti mau pecah. Saya sampai ketakutan sebelumnya. Kalau nanti Tuhan ambil anak saya ini bagaimana jadinya?, saya pasti tidak tahan. Heran sekali tidak sampai satu minggu setelah berdoa, bengkak anak saya langsung kempes. Saya hanya bisa

menguicap syukur pada Tuhan, benar-benar mengucap syukur sampai-sampai saya ingin menelpon ke Solusi.

5. Puji Tuhan saya bersyukur untuk semua ini. Ini berarti saya masih harus bersama-sama dengan suami saya karena selama ini suami saya belum datang pada Tuhan dan saya ingin meninggalkan dia. Tapi dengan kejadian ini saya belajar bahwa dosa sebesar apapun Tuhan akan ampuni kalau kita minta ampun.

“Siapa yang mau mencintai hidup dan mau melihat hari-hari baik, ia harus menjaga lidahnya terhadap yang jahat dan bibirnya terhadap ucapan-ucapan yang menipu. Sebab mata Tuhan tertuju kepada orang-orang benar, dan telinga-Nya kepada permohonan mereka yang minta tolong, tetapi wajah Tuhan menentang orang-orang yang berbuat jahat.” (1 Petrus 3:10,12)

From: CBNInews