Gereja Pantekosta Serikat di Indonesia Jemaat Ungaran

Kasih VS Donasi, Sebuah Perenungan

Yohanes 3:16

Semua orang sangat familiar dengan kata “Kasih”, Tetapi sayangnya tidak setiap orang mengerti dengan benar makna kata kasih. Secara umum orang memaknai kasih adalah sama dengan memberi. Contoh sederhana bila kita melihat seseorang mengalami kesusahan, maka orang yang memberi pertolongan disebut orang yang telah menyatakan kasih. Apakah makna kasih sesederhana itu? Untuk menjawabnya marilah kita tampilkan suatu kata lain seperti yang ada dijudul renungan ini yaitu kata “Donasi”.  Saya yakin kalau anda sering menonton TV akhir-akhir ini, maka kata ini sudah tidak asing lagi bagi kita. Terlebih dengan sering terjadinya bencana yang datang secara beruntun, maka stasiun televisi termasuk para sponsor programnya selalu mencantumkan menghimbau para pemirsanya untuk memberikan donasi dalam rangka meringankan penderitaan bagi para korban bencana. Tentu saja kegiatan solidaritas ini sangat positip dan berfaedah. Pertanyaannya adalah : Apakah memberikan donasi sama dengan makna kasih yang sesungguhnya? Jawabnya tentu saja tidak! Lalu apa makna kasih itu? Dimanakah kita dapatkan arti kata makna kasih itu? Apakah dapat kita peroleh dari ilmu bahasa untuk mencari arti terminology kata kasih itu?

Dalam teks bacaan kita Yohanes 3:16 tertulis: “Karena demikian besar kasih Allah akan dunia ini sehingga diberikannya AnakNya yang tunggal, supaya barangsiapa yang percaya kepadaNya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal”. Apakah Kasih yang dikatakan Injil Yohanes sama dengan makna kasih yang diajarkan manusia? Jika kita memperhatikan secara teliti isi ayat ini tidak ditulis kata kasih saja, tetapi ditulis 2 kata yang tidak terpisah yaitu “Kasih Allah”. Dengan demikian tentu saja jauh berbeda antara Kasih Allah dengan kasih versi manusia. Apa perbedaannya? Memang makna dari versi Allah dengan makna dari versi manusia dua-duanya ada kata memberi, tetapi tetap saja ada perbedaannya. Apa perbedaannya? Perbedaannya ternyata dari motif/pemberiannya. Seperti kita ketahui bahwa Allah adalah “ Kasih “ (I Yohanes 4:8),  namun kasih itu telah diejawantahkan/diwujudkan dalam diri AnakNya Tuhan Yesus Kristus. Nah dari titik ini barulah kita bisa melihat perbedaan antara kasih milik Allah dengan kasih milik manusia. Kasih menurut versi manusia tidak lepas dari motifnya dan status social yang disandangnya. Kasih yang dinyatakan oleh pemimpin agama dan umat beragama adalah kasih yang didasarkan pada norma-norma agama/spritualitas/kerohanian/religiusitasnya. Bagi para pengusaha/majikan tentu kasih yang ditunjukkan didasarkan sama-sama untung (take and give ), sedangkan bagi para donatur (dermawan)/ dan yayasan yang dibentuknya tentunya didasarkan pada motif social. Apakah Kasih milik Allah memiliki motif yang sama seperti itu? Sama sekali tidak!! Kasih Allah adalah kasih yang tidak dimiliki manusia, hanya dimiliki oleh AnakNya yang tunggal yakni Tuhan Yesus Kristus. Jadi suatu kebohongan besar bila seseorang mengatakan ia memiliki kasih Allah walaupun ia rajin memberikan sumbangan (donasi), rajin melakukan kegiatan keagamaan, kegiatan social, karena Kasih Allah (Pemberian Allah)  tidak sama dengan motif-motif yang dilakukan manusia. Kasih Allah adalah Kasih tanpa pamrih/tanpa motif dan sama sekali tidak dimiliki manusia. Cuma ada satu cara kata Rasul Yohanes dalam surat kirimannya,  yaitu menyatunya kita dengan Tuhan Yesus Kristus sipemilik kasih Allah. Kemanunggalan kita dengan Tuhan Yesus Kristus akan merefleksikan Kasih Allah tersalur dari diri kita. Lalu apa yang membedakan kasih versi manusia dengan Kasih Allah? Tadi sudah dijelaskan bahwa kasih Allah adalah kasih yang memberi tanpa pamrih/tanpa motif, Kasih yang mau menyelamatkan meskipun Ia harus kehilangan nyawa, yaitu pemberian yang melekat dengan pengorbanan. Kasih manusia tidak ada yang seperti itu. Kasih manusia lebih banyak pada batasan simpati,  tetapi Kasih Allah lebih dalam dari itu Allah berempati kepada orang-orang miskin/hina, dengan jalan mempersembahkan diriNya sendiri (Persembahan 100%, bukan 10%). Dalam kisah janda miskin yang mempersembahkan persembahannya yang  mungkin berkisar sekitar Rp 1000,- sedangkan orang-orang kaya memberikan  yang mungkin jutaan rupiah, secara kasat mata tentu orang menilai orang-orang kaya itu yang ibadahnya diterima Tuhan. Ternyata orang keliru, ternyata Tuhan Yesus berkenan terhadap pemberian janda miskin, bahkan Tuhan Yesus memujinya dengan mengatakan bahwa janda miskin memberi lebih banyak dari orang kaya itu. Tuhan Yesus tidak membutuhkan kasih versi manusia dalam bentuk donasi. Janda miskin memberi dari kekurangannya/kemiskinannya, bahkan Tuhan Yesus mengatakan bahwa janda miskin ini memberikan seluruh nafkahnya. (Seluruh miliknya 100%).

Kasih Allah adalah kasih yang dilandasi oleh pengorbanan. Lalu Pengorbanan untuk apa? Mungkin orang mau berkorban disuruh apapun untuk meraih kesuksesan, kekayaan, kepintaran, atau melindungi keluarga yang kita kasihi, Semua itu masih dalam lingkaran diri kita/ego kita. Tetapi adakah orang yang mau berkorban bukan untuk kepentingan diri sendiri tetapi berkorban untuk orang lain bahkan untuk musuh kita? Untuk sahabatnya mungkin orang mau berkorban, tetapi tindakan Kasih Allah adalah diluar jangkauan pemikiran kita, Ia berkorban, mati justru untuk musuhNya. Bukankah Alkitab mengatakan ketika manusia berdosa maka manusia menjadi seteru/musuh Allah. Tak ada satu orangpun yang dapat mendamaikannya, kecuali Allah didalam kasihNya melalui AnakNya Tuhan Yesus Kristus. Pengorbanan Allah dilandasi oleh kebenaran/keadilan Allah. Keadilan Allah tidak sama dengan keadilan dunia ini.  Keadilan Allah dilandasi oleh kasihNya laksana seorang Ayah terhadap anak-anaknya. Kasih yang mau memberi dan kasih yang mau berkorban. Lalu apa perbedaan antara keadilan Allah dengan keadilan dunia? Tentu berbeda. Keadilan dunia tetap membedakan status/hirarki seseorang. Sedangkan keadilan Allah didasarkan pada kebenarannya bahwa semua manusia telah berdosa, tidak ada perbedaan di mata Allah. Apa arti tidak ada perbedaan? Berarti kita semua ini harusnya memiliki persamaan hak setelah kita dipulihkan dan diselamatkan oleh Kristus. Oleh sebab itu perintah baru yang diberikan Yesus menggantikan perintah agama yaitu “Kasihilah sesamamu manusia seperti engkau mengasihi dirimu sendiri”.

Oleh: Ev. Andereas D.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s